Waraney's posts with tag: whalerider

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag whalerider

Blog Entryadalah kebun rayaJul 15, '08 12:08 AM
for everyone
saat kerja selesai
pukul setengah sebelas
siang hari yang terlambat
membuka matanya.

(jakarta, padat pekerja, langit ramah dan gedung sumringah. cuaca yang sorga. neraka yang kadaluarsa, kuli bangunan jongkok menikmati ketoprak berkeringat. kota ini berkeringat)

rumah dan setumpuk buku menanti.
es buah, nasi sebungkus beli di warung belakang
kebon kacang adalah kebun raya berpagar cahaya instan

(ah nikmatnya menjadi tua saat engkau tetap muda)

 






.



Blog Entrymenyala bertahunApr 30, '08 6:48 AM
for everyone
ingin kuhembus napas
dalam angin yang terlepas
tercipta dalam unggun
menyala bertahun

hari ini selalu
kamu
panas kutub utara


ramai hujan
namamu berderai!






http://whalerider.multiply.com/journal/item/73/pemintal_waktu




Blog Entryanker atau bintang?Apr 11, '08 6:39 AM
for everyone
absurdia pilakita pilamulamula plikitiplikita
berlari kita berlari mereka mengejar apa
asymmetrikila tak sejajar tak sama
memang kenapa?

pantai menunggu di sana
pasirnya putih, ombak berbusa
anker atau bintang?



jawaban untuk puisi whalerider.




Got ourselves new haircuts. She, successfully. Me, not (as always). Though I looked five years younger (according to her as she tried comforting me wounded self). Hahahaa..

It was fun though. I would do it again for sure! :)




Blog Entrypoor old thingFeb 27, '08 11:50 PM
for everyone

Yesterday I was sick and couldn't come to the office. The extra sleep did me good.

My Blueberry Nights and Darjeeling Limited. Nice movies. Good looking Louis Vuittons. Naked Natalie. Straight-faced Jason.

Today I was sorry for being sick, with the load of work I have now, and wished I didn't take the day off. Plus the freezing air conditioner. And the instant coffee. Cream. With sugar.

Workloads. Day offs. Sickness.

I am getting old. You poor old thing said my girlfriend.


Photo AlbumKebun Binatang Ragunan, Jan 12 2008 (27 photos)Jan 20, '08 7:48 AM
for everyone

Menghilangkan stress dengan melihat binatang-binatang stress. Itu yang dibilang Dita, waktu kita sampe di Kebun Binatang Ragunan. Koleksi binatang yang tinggal sedikit (banyak komodo, hampir gak ada singa dan macan), sakit (landak-landak yang korengan?), atau sibuk minta makan sama pengunjung (beruang amerika yang mupeng liat kacang goreng?).

Untung ada Pusat Primata Schmutzer. Gorila-gorila yang terawat, siamang, dan segala jenis kera ada di situ. Mereka tinggal dalam fasilitas yang bagus dan bersih, canggih dan terawat.

Kita menghabiskan setengah hari di sana. Capek, panas, dan rame banget. But it's worth it.

Also check: http://whalerider.multiply.com/journal/item/46/menghilangkan_stress_dengan_melihat_binatang_stress




Today's the last day of the exhibition if I'm not mistaken.

It was a quiet haven for us during the three days attending the Occupying Space performance art event.

It's amazing how those photographers could take pictures of the most simple objects and then making them significant, something that is grotesque in reality suddenly appeared beautiful, even exotic and sometimes toxic.

The curse of living in such a big and devilish city like Jakarta is that you could not appreciate its beauty or details perfectly and directly. You have to wait for someone to capture and present it to you on an artistic platter.

Photo AlbumBakauheni - Merak, 25 November 2007 (15 photos)Nov 25, '07 11:38 PM
for everyone

Akhir minggu kemarin (23-25 November), gue temenin Dita ke Lampung. Dia ada urusan bisnis ama temennya. Cukup bersemangat karena gue belum pernah naik bis eksekutif Jakarta-Lampung yang katanya nyaman bener itu. Harga tiketnya lumayan mahal sih, Rp 135.000. Tapi dengan harga segitu kita dapet kursi yang nyaman dan bisa berubah jadi tempat tidur (hehehe agak berlebihan sih, but you get the idea lah!).

Lampung is a nice city. Walaupun menurut Lonely Planet, di tempat ini gak ada yang bisa dilihat, menurut gue kota ini cukup lumayan dan nyaman. Sayang gak sempat jalan-jalan ke Way Kambas dll.

Kita berangkat hari Jumat malam, jadi gak bisa menikmati pemandangan di perjalanan. Pulangnya, naik bis yang berangkat pagi (Jam 10). Jadi di perjalanan bisa lihat-lihat pemandangan. Nothing special sih, tapi mendingan daripada cuma disuguhi malam gelap dan suram.

Di atas kapal ferry selama menyeberangi Bakauheni - Merak, kita memutuskan untuk kabur dari kungkungan cargo hold kapal yang sumpek dan mirip penjara Death Star. Di atas dek, gue agak kaget keramaian yang mirip pasar dan suara stereo system yang bikin budek. Hebat, orang Indonesia memang punya toleransi yang tinggi terhadap suara-suara keras.

Ok, stop it there Ney, you're starting to get cynical again. Hahaha

It was a nice business trip anyway :)


Hari terakhir Ubud Writers and Readers Festival. Dita dan gue sama-sama dapat tugas pagi, dan akhirnya bisa jalan-jalan sesuka hati. Hari memang sudah mulai sore. Karena sepulang dari box office di Indus, kita mampir dulu ke Sania untuk beres-beres barang Dita, sekalian ngurusin hal-hal lain.

Lalu jalan-jalan menyusuri Monkey Forest road, mampir di Pondok Pekak library dan beli beberapa buku bekas. Puas liat buku, diteruskan dengan window shopping di sepanjang jalan penuh toko-toko keren itu. Ada beberapa toko yang bikin si Dita naksir berat. Satu toko, terutama, yang ada baju 'teenvogue'-nya. Hehehe....

Hasil perburuan hari itu kalo nggak salah termasuk gelang-gelang kayu kelapa yang lucu.

Sampai ujung jalan, Dita nggak mau masuk ke Monkey Forest-nya. Ya udah, balik badan. Sempat juga beli baju putih (Bali banget!) buat gue. Capek tapi lumayan puas. Malam itu acara penutupan UWRF di Antonio Blanco, jadi harus pulang cepat dan siap-siap.

Kapan balik sini lagi?


Setelah bebas tugas dari kerjaan-kerjaan volunteer Ubud Writers & Readers Festival 2007, gue dan Dita masih tinggal di Ubud sampai tanggal 2 Oktober pagi (makan, jalan, belanja, tidur, makan, jalan, belanja, tidur). Siangnya, kita pindah ke Kuta, memuaskan hasrat belanja Dita yang gila-gilaan. Hehhehehe...

Hari terakhir, 3 Oktober, kita bangun pagi-pagi. Ceritanya mau liat sunrise. Dengan bodohnya gak sadar kalo di Kuta gak ada sunrise, yang ada sunset...hahaha...

Akhirnya diputuskan untuk jalan ke Canggu. Menurut pacar tersayang, "deket kok...etc...etc." Ok. Siapa takut? Waktu di Ubud juga kita kerjaannya jalan kaki melulu.

Setelah hampir tiga jam jalan, diselingi foto-foto, main air, ngumpulin kerang, duduk kecapean, dan lari-larian, akhirnya kita sampai juga di Echo beach, Canggu. Nggak ramai, hanya ada puluhan surfer bule berperut six pack (puas deh lo Dit!) yang mengejar ombak atau tidur-tiduran di bangku kayu. Sepi dan enak, nggak kayak Kuta yang pasar malam.

Setelah makan enak (lupa apa aja, cuma inget banana and peanut butter jaffle), kita pun telpon supir langganan, minta diantar balik ke hotel di Poppies. Terlalu capek untuk menyusuri jalan pulang, dan dikejar jadwal flight pulang ke Jakarta.

Ah, Bali...

Photo AlbumKebun Raya Bogor: 24 Juni 2007 (30 photos)Jul 26, '07 6:53 AM
for everyone

hari minggu jalan-jalan ke bogor
jakarta sumpek, pejabatnya bocor
naik kereta istimewa berdiri semua
cari angin mojok di samping jendela

temenin pacar buat laporan skripsi
ke rumah bang ade berangkat pagi
sampe sana kite muter-muter lagi
untung ada sopir angkot baek hati

pulang ngelapor masih terang hari
kite mampir kebun raya belok kiri
bayar tiket beli minum biar adem hati
banyak pohon banyak bunga melati

dung neng, berasa pilem teguh karya
yang sibuk pacaran dan rame main bola
sayang orang indonesia keren gayanye doang
muke ganteng cantik buang sampah sembarang!!!


*indonesia kan cuma menang slogan doang, mangkanya kacrut melulu!*



Setelah lebih dari dua puluh tahun keinginan ini harus tertahankan, akhirnya, tanggal 11 Februari lalu, si robot mainan God Sigma jadi milik gue! Finally! Hahahahaha...(ketawa a la penjahat film kartun)! Walaupun harga yang harus ditebus sangat mahal, kepuasan yang diperoleh tak terlukiskan....:)

Ada robot Voltus V yang vintage juga, lengkap dengan kotaknya, dalam kondisi yang nyaris sempurna. Harganya? Delapan juta rupiah saja! Good bye aja deh, at least nunggu sampe gue jadi jutawan...:(


Seumur-umur pergi keluar kota untuk urusan kerja, baru kali ini pacar tercinta bisa mengantar. Senangnya! Berhubung jadwal pesawatnya pagi sekali (Batavia Air, 5.45), kita terpaksa udah nongkrong di bandara dari jam 3 lewat. Ngobrol setengah ngantuk, foto-foto biar tetep melek. Narsis memang tak kenal waktu dan kondisi tubuh...:)

Check in jam 4, keluar lagi temenin Dita sebentar. Sekitar jam 4.30 udah harus standby di waiting room, say goodbye to my whalerider. And then she went sleepily home. I only wish she could come with me. But hey, we're going to Bali next year!!!! Ayo ayo menabung!!! :))


Hari Sabtu, tanggal 15 Juli, siang sepulang dari Universitas Pelita Harapan (Dita abis liputan di sana paginya), kita pergi ke Festival Jajanan Bango di Lapangan Banteng. Sebelum itu mampir dulu ke kos-nya Sem, temen Dita di Spice (dia mau ngeliput acara ini). Sementara itu, matahari yang kedap-kedip dengan genitnya di atas sana lumayan bikin gerah, walaupun lagi di dalam mobil ber-AC. Udah kebayang deh panasnya nanti

Kita sampai di Lapangan Banteng sekitar pukul 3.30 sore. Kalo berita-berita di milis sih bilangnya mulai jam 4 sampe jam 10 malem. Ternyata begitu kita sampai di sana, udah rame banget. Antrian panjang terbentuk di depan beberapa meja yang menjual....hmmm..apaan tuh? Ternyata kupon belanja, sodara-sodara! Ada dua pecahan, lima ribu dan seribu. Norak banget deh panitianya. Gak penting bener, belanja musti pake kupon. Gara-gara ini, kita yang udah laper berat terpaksa berdesak-desakan beli kupon. Ya, berdesak-desakan dan berebutan, karena kita tinggal di negara yang gak punya budaya antri bukan? Orang Indonesia kan paling bangga dan doyan berebutan di depan loket apa pun. Kalo ada orang yang setia ngantri, malah terlihat aneh. Sopan santun dan etika memang gak termasuk dalam 'khazanah' budaya Indonesia yang katanya super beradab ini.

Setelah dapet kupon, kita mulai bergerak. Sasaran pertama, nasi goreng kambing. Sebenarnya Festival ini lebih tepat dibilang festival nasi goreng pindah tongkrongan, karena dari sekian banyak jajanan yang tersedia di sini, mungkin lima puluh persennya ya tukang nasi goreng! Mentang-mentang yang ngadain Kecap Bango! :)

Katanya sih ada sekitar 45 penjaja makanan tradisional asli Jakarta, mulai dari Gabus Pucung, Pecak Gurame, Ketoprak Ciragil, Gado-gado, Ice Cream Ragussa, Nasi Uduk Kebon Kacang, Dodol Betawi, Bubur Betawi, dan jajanan pasar lainnya. Tapi berhubung terik matahari bikin mata males celingukan, gak tau juga bener-bener ada semuanya apa nggak.

Habis nasgorkam, mulut yang kering dan haus ini minta dibikin sejuk. Mampirlah saya ke tukang es podeng. Hmmm....asoooy geboooy. Dita gak berminat. Dia lebih suka ngelirik-lirik jajanan yang lain. Dan betul saja, gak lama kemudian dia udah antri beli asinan. Nah, budaya non-antri a la bangsa Indonesia yang maha hebat itu muncul lagi di sini. Saking kacau balaunya antrian, si bapak tukang asinan sampe stress berat....:) Lebih stress lagi waktu ada seorang ibu yang dengan baik hatinya bilang..."Pak, bikinin Mbak yang itu dulu dongg. Saya kan belakangan!" Wah, si bapak malang pasti heran, ibu ini gak tau budaya nyelak yang maha mulia ya?

Karena panas dan berdebu, Dita males keliling-keliling. Dia cuma duduk di belakang salah satu tenda, beradem-adem ria, sementara gue nonton atraksi kuda lumping yang cukup keren.

Soal debu ini juga yang bikin masalah. Panitianya gak sekolah kali ya? Tau nggak sih kalo debu dan makanan itu gak boleh dicampur? Tempat acara yang lapangan bola berpasir itu dengan cepat berubah mirip-mirip pasar di Somalia. Pernah nonton Black Hawk Down? Inget waktu Rangers dan Navy Seal menyerbu pasar naik helikopter di tengah-tengah debu berterbangan? Nah, kurang lebih seperti itu suasananya.
(Sudah pasti gue melebih-lebihkan di sini. Tapi who cares, panitianya juga gak cerdas kok!)

Juga soal sampah. Susah betul cari tempat sampah. Gak heran, baru sejam di sana, udah terlihat banyak gelas-gelas plastik dan piring styrofoam berserakan. Belakangan terlihat ada beberapa petugas sampah yang berkeliling bawa plastik sampah besar. Finally!

Capek duduk (lo, duduk kok capek?), selera makan pacar gue yang hebat itu muncul lagi. Kali ini dia memutuskan untuk makan sate padang. Buset! Gue aja udah mau meletus rasanya ini perut. Dia masih nambah lagi doongg!

Menjelang sore, kita cuma duduk-duduk dekat patung pembebasan Irian Barat. Soalnya awan debu di pusat jajanan semakin menggila. Agak malam dikit, Anya dan temannya, Maren, datang. Selera makan Anya yang cukup menandingi Dita, gak terpenuhi, karena banyak penjual yang sudah kehabisan stok. Yang masih buka pun dijejali antrian panjang. Gak lama kemudian kita pulang. Setelah kenyang minum teh manis Sari Wangi (yang saking manisnya bisa bikin stroke!) dan bosen nonton tukang Kerak Telor beraksi.

Secara keseluruhan, acara ini cukup asik dan patut untuk dijadikan agenda tahunan. Mungkin perlu diperbaiki sedikit aja. Misalnya soal tempat, soal kebersihan, toilet, kepraktisan (please deh, hare gene belanja pake kupon?emangnya bazaar RT?) dan lain-lain.


Hari Sabtu, 24 Juni 2006, gue dan Dita pergi ke Museum Fatahillah untuk melihat Pameran Pra Sejarah Jakarta, yang pengumumanya udah muncul di milis2 sejak beberapa waktu lalu. Selain kepengen liat-liat museum lagi, deskripsi di pengumumannya sih cukup seru.

Siang itu, sekitar jam 12 (kesiangan bangun dan males berangkat!) kita sampai di Fatahillah dengan harapan tinggi, untuk kemudian lumayan kecewa. Dari luar, gak ada tanda-tanda bahwa ada pameran yang agak beda. Setelah masuk, sempet cari-cari dulu, dimana nih pamerannya? Oh, ternyata di ruang belakang.

And guess what? Cuma satu ruangan? Hmmm...
Tapi gak apa-apa lah. Benda-benda yang dipamerkan lumayan juga sih. Walaupun terkesan lebih heboh dan gede-gede digital print banner informasinya dari pada barang yang dipamerkan...:)

Dari sana, kita buru-buru ke Museum Nasional, atau biasa disebut Museum Gajah. Sampai di sana jam 2 kurang, dan terlambat...bat..bat....Museum sudah tutup. Tapi di galeri sebelah ada pameran foto Herbarium Amoris, a tribute to Carl Linnaeus by Edvard Koinberg. Puas liat-liat, kita keluar dan duduk-duduk, lalu terinspirasi sama relung-relung di dinding halaman belakang museum dan mencoba menjadi....patung!!!!

Pages:12
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help