 | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Tak berapa lama setelah lulus dengan nilai hampir sempurna dari Emory University, Virginia, Chris McCandless menyumbangkan seluruh tabungannya ke Oxfam, meninggalkan mobil Datsun kesayangannya dan membakar sisa uangnya.
Ia melepaskan diri dari keluarga serta semua yang dikenalnya dan menghabiskan hampir dua tahun hidup di jalanan pelosok Amerika Serikat, sebelum akhirnya memulai perjalanan terakhirnya ke Alaska. Jenazahnya ditemukan dua minggu setelah ia meninggal di Stampede Trail, Alaska. Usianya saat itu baru 24 tahun.
Masa depan cerah, peluang masuk Harvard Law, dan karir cemerlang, rupanya terlalu mencekik buatnya. Ia ingin kembali ke alam, jadi manusia yang seutuhnya, dan terbebas dari kekangan masyarakat yang gila. Keinginan sederhana yang dibayarnya dengan nyawa di usia muda.
Film yang disutradarai Sean Pean ini bertutur dengan gaya dokumenter. Alurnya flashback, ditimpali narasi Hirsch sebagai McCandless dan Jena Malone sebagai Carine, adik perempuannya. Karena McCandless tergila-gila dengan karya sastra (ia menggemari Tolstoy, Thoreau, dan London), terasa sekali kalau kekuatan kata-kata menjadi salah satu tumpuan utama film ini. Terutama kata-kata singkat dan padat yang dituangkan McCandless dalam buku hariannya.
Emile Hirsch bermain cemerlang sebagai McCandless dalam film ini. Saya pertama melihat aktingnya dalam film menyenangkan ‘The Girl Next Door’, lalu dalam film ‘Lords of Dogtown’. Siapa McCandless saya tak pernah tahu, tak pernah mendengar namanya sebelum menonton film ini. Tapi McCandless yang ditampilkan Hirsch dalam film ini adalah invididu yang hidup, yang mengingatkan saya akan idealisme masa muda dulu.
Saat kota menjadi tempat yang menyebalkan sedangkan hutan dan gunung adalah surga.
Mengingatkan saya bahwa masa muda adalah saat untuk jadi gila.
Bahwa bahagia jadi sempurna saat dirasakan bersama.
  | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Sejauh apa kita harus pergi untuk menemukan yang dicari? Banyak orang menghabiskan sisa hidup mereka mencari jawaban itu, pergi ke ujung dunia dan membalik-balik semua batu yang ditemukan. Padahal yang dicari hanya berjarak beberapa meter di seberang jalan.
Lizzie (Norah Jones) yang baru putus cinta menemukan sedikit ketenangan di kafe milik Jeremy (Jude Law), tak jauh dari apartemen milik mantan pacarnya. Obrolan tengah malam dengan sang pemilik kafe sedikit bisa mengobati kesedihannya. Apalagi selalu ada sepiring dua piring blueberry cake dan cemilan penggendutan lainnya.
Tapi malam-malam singkat dibalut lembab napas New York itu tentu tak cukup untuk mengobati hati Lizzie yang terlanjur robek-robek. Seperti sejuta makhluk patah hati lainnya, ia pergi naik bis pertama yang datang dan turun ratusan mil kemudian di negeri antah berantah bernama Memphis.
Di sana ia kerja keras. Pagi sampai siang jadi waitress di sebuah restoran, sore sampai malam jadi bartender di sebuah bar. Capek sudah pasti, tapi paling tidak insomnianya teratasi.
Segala karakter aneh ditemuinya sepanjang perjalanan yang memakan waktu hampir satu tahun itu. Ia jadi saksi kisah sedih Arnie (David Strathaim), polisi alkoholik yang terobsesi dengan mantan istrinya Sue Lynne (Rachel Weisz). Ia juga bertemu dengan Leslie (Natalie Portman), pemain poker profesional yang gagal mengajarinya untuk tak pernah percaya pada siapapun.
Dalam masa pencarian ini, Lizzie tak pernah lupa menulis postcard kepada Jeremy, walaupun tanpa memberitahukan alamat jelasnya. Akibatnya Jeremy yang sudah jatuh cinta habis-habisan tak dapat membalas postcardnya dan cuma bisa menunggu.
Sampai akhirnya Lizzie datang kembali, sadar bahwa yang dicarinya selama ini sudah ditemukannya setahun yang lalu. It's just across the road. Dan Jeremy bisa menghapus bekas-bekas mashed potato yang menempel di bibir gadis itu. Sebagai penggemar berat film-film Wong Kar Wai, saya sudah menunggu-nunggu film ini. Setelah menontonnya? Puas, itu sudah pasti. Semua yang saya harapkan dari sebuah film Wong Kar Wai saya dapatkan.
Tapi juga sedikit kecewa. Wong Kar Wai yang selama ini dikenal sebagai sutradara yang serba spontan dan tak takut mencoba sesuatu yang baru seolah terjebak dalam format yang diciptakannya sendiri. Menonton film ini seperti melihat Chungking Express dan 2046 dikemas jadi satu dengan pemain Barat dan musik yang berbeda.
Gambar-gambar yang sama. Sinematografi serupa. Penceritaan yang tak berbeda.
Ini road movie yang sangat manis, menghibur dan membekas. Lagu-lagu yang dibawakan oleh Norah Jones sungguh-sungguh sesuai dan dijamin merobek-robek hati Anda yang sedang patah hati.
Tapi rupanya saya salah sudah berharap lebih. Ah, nikmati saja. Never take beautiful things for granted, Ney.
  | Category: | Movies | | Genre: | Comedy |
Road movie yang baik buat saya adalah yang dapat memberikan lebih dari sekadar pemandangan daerah-daerah yang dilewati tokoh-tokohnya atau petualangan-petualangan mendebarkan jantung.
The Darjeeling Limited bercerita tentang tiga orang saudara yang melakukan reuni setelah sekian lama berpisah. Reuni di India yang diprakarsai oleh Francis (Owen Wilson) ini diikuti dengan setengah hati oleh Peter (Adrien Brody) dan Jack (Jason Schwartzman), walaupun seharusnya menjadi semacam perjalanan spiritual bagi mereka. Francis sebagai saudara tertua sudah susah payah mengatur segala sesuatunya. Kalau segalanya berjalan lancar, ini akan jadi titik awal mereka memperbaiki hubungan yang rusak selama ini.
Rusak karena apa? Sutradara Wes Anderson menjelaskan segala sesuatunya perlahan-lahan, tak terburu-buru. Di awal cerita saya hanya bisa menebak-nebak, pasti mereka produk keluarga kaya-raya yang berantakan yang melahirkan anak-anak cerdas berkarakter aneh, seperti yang saya lihat di film The Royal Tennenbaums.
Soal mereka kaya, jelas terlihat dari tas-tas kulit Louis Vuitton hasil sentuhan tangan perancang berbakat Marc Jacobs. Oh, tipikal cerita spoiled brat yang keberatan dosa nih, begitu pikir saya saking ngirinya melihat tas-tas cantik itu, yang di akhir film dengan semena-mena dilempar ke peron stasiun. Benar-benar road trip beralaskan kulit kelas satu.
Ternyata ceritanya lebih sederhana lagi. Saking sederhananya saya menikmati betul kelakuan mereka yang semena-mena. Ya betul, mereka benar-benar spoiled brats yang bergelimang duit. Tapi Anderson berhasil menunjukkan bagaimana ketiga saudara yang berbeda karakter ini mengatasi ketegangan-ketegangan yang timbul akibat peristiwa menyedihkan dalam keluarga mereka. Peristiwa yang buat sebagian orang tak akan membekas separah itu, rupanya buat mereka jadi trauma yang mendalam.
Cara mereka menyikapinya sangat beragam. Mulai dari ngebut menabrakkan motor ke bukit supaya babak belur sukur-sukur mati, kabur ke Paris tanpa meninggalkan kabar, atau memakai barang-barang peninggalan ayah tanpa izin saudara yang lain.
Jangan kuatir, ini bukan film berat. Sepanjang perjalanan kita disuguhi kelakuan ‘miring’ tiga bersaudara ini. Berkelahi lempar-lemparan ikat pinggang dan mengganggu sesama penumpang, bercinta dengan pramugari kereta yang baru dikenal, terdampar entah dimana akibat diusir kondektur kereta yang galak, sampai jadi pahlawan menyelamatkan anak-anak dari bahaya tenggelam.
Ketika perjalanan mereka semakin mendekati akhirnya, saya baru sadar bahwa road trip yang paling seru dalam film ini bukanlah yang melintasi daratan India, tapi yang melintasi ruang-ruang kosong di antara ketiga saudara itu dan mengisi lubang-lubang di koper-koper mewah mereka.
Catatan: Dalam Hotel Chevalier, film pendek yang menjadi bagian pertama film ini, Natalie Portman tampil berani tanpa terjebak jadi vulgar. Sebagai mantan kekasih Jack yang menyusulnya ke Paris, salah satu kalimat yang diucapkannya adalah: “If we fuck now I’m gonna feel bad in the morning.”
The Darjeeling Limited (and Hotel Chevalier) Owen Wilson: Francis Whitman Adrien Brody: Peter Whitman Jason Schwartzman: Jack Whitman Amara Karan: Rita the stewardess Bill Murray: The Businessman Anjelica Houston: Sister Patricia Whitman Natalie Portman: Jack’s ex girlfriend
 | Category: | Movies | | Genre: | Romance |
And we're gonna make it, even if we're gonna kick some ass (including ours) while we're at it.
Radit dan Jani adalah pasangan muda yang karakter dan gaya hidupnya mengundang banyak masalah. Awalnya saya agak kaget melihat pasangan seperti mereka bisa eksis di belantara Jakarta - yang walaupun statusnya kota metropolitan tapi sebenarnya bermental kampung - tanpa digerebek tetangga dan digebukin hansip. Tapi belakangan saya tahu, ternyata mereka suami-istri. Ooooh pantesan. Kirain kumpul kebo. Hehehehe...
Seperti halnya pasangan muda in exile lainnya, hidup bukanlah bed of roses and a fairground. Banyak sekali kejadian tak menyenangkan yang harus menimpa mereka, sampai-sampai saya merasa agak tercekik saat harus mengingat semuanya.
Jani yang dibuang keluarganya harus bekerja serabutan dan mentolerir drug habit Radit. Radit baru ditendang band-nya, demo tape-nya tak kunjung dapat respons dari perusahaan rekaman, dan emosinya yang meledak-ledak membuatnya sulit mempertahankan pekerjaan. Padahal yang mereka inginkan tak muluk-muluk amat. Jani hanya ingin bisa terus bersama Radit, sedangkan Radit cuma ingin bisa membahagiakan Jani. Berapa juta pasangan muda di dunia yang sudah-pernah-akan-dan-sedang-mengalami ini? Semua halangan dan tantangan rasanya cuma kotoran kucing yang bisa diinjak atau dilompati. Semua demi cinta, agar bisa berdua selamanya.
Romantis betul. Too bad God is not a Bollywood director and the world doesn't work like a fairy tale machine.
Jangan kuatir Upi, you're much much better than our local-bred Bollywood partisans and I won't put you in their league here. Just read on.
I like the movie so much I am willing to forgive some of its flaws. Seperti editing yang kurang kejam, durasi yang kelewat panjang, sound yang cacat dan gerakan kamera yang mengganggu.
Ada banyak adegan dalam film ini yang sebenarnya tak perlu, atau kalaupun mau dipertahankan, mungkin lebih baik apabila dibiarkan tanpa dialog. Adegan yang mana? Go figure it out yourself.
Soal kamera yang terus-menerus goyang, mungkin sang sutradara ingin penonton merasa frame yang selalu goyang itu menjadi representasi dari keberadaan sang penonton yang on site, berhadap-hadapan dengan si tokoh dan masalah-masalah yang dihadapi mereka.
Tapi saya kok tidak merasa kamera yang goyang-goyang pica-pica patah-patah itu perlu ya? Pengambilan gambar yang cenderung close-up dan medium close-up, setting rumah Radit dan Jani yang hampir selalu remang-remang, dan mood tokoh-tokohnya yang naik turun terus itu, sudah cukup claustrophobic, sudah cukup membuat saya terlibat, dan sudah cukup membuat saya merasa jengah seolah-olah sudah terlalu jauh masuk dalam kehidupan mereka.
Di luar cacat-cacat kecil itu, saya kasih bintang tiga untuk film ini. Satu bintang untuk penyutradaraannya, satu untuk Vino Bastian, satu untuk Fahrani.
Vino dan Fahrani, they were fucking great. Saya mendapatkan chemistry pasangan kekasih yang alami dan wajar dari mereka berdua. Tidak seperti adegan suami-istri dari film noir apalah yang basi berat itu.Tidak ada jejak-jejak sinetronakarpunjabi dalam akting mereka. Kalaupun Vino kadang sedikit berlebihan, ia hanya mengingatkan saya kepada akting teatrikal aktor Indonesia di tahun 70an.
Moga-moga Vino dan Fahrani tidak akan keburu tenggelam dalam pergaulan sosialita dan sibuk bikin iklan cemen gak jelas atau jatuh ke dalam stereotipe akting, karena mereka bisa jadi the next best couple - artistically - in Indonesian movies. Hell I could be wrong I wouldnt give a shite.
Adegan Radit mengalihkan perhatian Jani dari rasa lapar dengan main tebak-tebakan, adalah salah satu adegan yang paling saya suka. Deddy Dores? Hahahaha...kampret! I didn’t see that coming!
Musik di film ini juga tepat waktu dan bersahabat dengan telinga saya. The songs are great. Kecuali lagu penutup dari Peter Pan yang agak nggak nyambung sama lagu-lagu lainnya. Ah sudahlah Ney. The band sells, and it's a guilty pleasure for most of us anyway.
Oh, ya. I also have mixed feelings about the ending. I’d rather not mention it, karena kalo gue bocorin di sini, gak seru aja. Just go see the movie.
| Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Robert Neville membelah belantara Manhattan yang dipenuhi mobil-mobil kosong, melindas semak-semak yang merobek aspal jalanan, melewati toko-toko tanpa penjual dan pembeli, dan lampu lalu lintas yang selamanya mati. Ia sibuk berburu rusa, melibas tikungan sepi, menghindari bus kota yang berdiam diri, dan baru berhenti setelah buruannya disikat keluarga singa yang muncul entah dari mana. Kota New York yang selama ini akrab di mata kita yang rajin nonton film-film Hollywood, tampak sunyi dan tak terurus. Manhattan jadi kota mati, Central Park jadi tempat bercocok tanam. Central Perk entah jadi apa. Saya pun kuatir memikirkan nasib Joey, Chandler, Rachel, Ross, Phoebe dan Monica. Adegan pembuka ini mengingatkan kepada Tom Cruise di film Vanilla Sky yang suatu pagi berangkat kerja dan terkejut menemukan Manhattan yang kosong melompong, ternganga menatap Times Square yang bagai kuburan sepi. Saya juga jadi ingat film 12 Monkeys yang dibintangi Bruce Willis. I Am Legend berkisah tentang virus yang merajalela, manusia yang tertular berubah menjadi zombie yang haus darah dan daging namun takut cahaya matahari, dan kehilangan segala sifat-sifat kemanusiaannya. Tak butuh waktu lama, milyaran manusia tumpas akibat virus ini. Yang tersisa cuma segelintir survivor yang diburu-buru jutaan zombie. Robert Neville adalah salah satu dari survivor itu. Bukan cuma itu, dia juga kebal virus dan mendedikasikan sisa hidupnya untuk mencari obat penangkalnya. Hari-harinya dihabiskan dengan berolah raga (duh kapan gue bisa punya sixpack kayak gitu), sibuk di laboratorium, berburu (rusa, zombie atau apa pun), menyiarkan ajakan bergabung kepada siapa pun yang masih bertahan hidup di luar sana, menunggu para survivor di dermaga sambil main golf di atas sayap pesawat stealth Black Bird, meminjam DVD di tempat langganannya sambil ngobrol dengan para mannequin yang menemani kesepiannya, dan saat sore menjelang, kembali ke rumah bentengnya di kawasan Washington Square. Karena saat malam datang, para zombie berkuasa. Kesepian Robert mengingatkan saya kepada tokoh Chuck Noland di film Cast Away yang diperankan Tom Hanks. Walaupun belum bisa menyamai kualitas Tom Hanks, dalam I Am Legend, Will Smith bermain sangat baik sebagai manusia yang kesepian, berusaha menjaga kewarasannya dengan mempertahankan rutinitas tertentu, melampiaskan kebutuhannya akan teman kepada anjing German Shepherdnya, dan bingung saat rutinitas itu hancur. Yang mengecewakan adalah penampilan zombie-zombie penguasa bumi itu. Computer generated image-nya sangat kentara dan seringkali terlihat lucu. Kelakuan zombie yang oh so typical zombie itu juga mudah ditebak. Seandainya saja mereka tak pernah benar-benar diperlihatkan ke penonton, mungkin lebih menyeramkan jadinya. Ini film ketiga yang berusaha memindahkan buku 'I Am Legend' karya Richard Mattheson ke layar perak, setelah 'The Last Man on Earth (1964) dan 'The Omega Man' (1971). Di buku aslinya, musuh yang dihadapi oleh Robert adalah manusia yang berubah menjadi vampir. Secara keseluruhan, sangat layak ditonton. Apalagi adegan saat Robert yang terlalu lama hanya bergaul dengan zombie, mannequin dan anjing, akhirnya bertemu manusia, dan bingung bagaimana harus bersikap. Satu bintang untuk akting Will Smith, satu bintang untuk kerja keras menampilkan New York yang sepi sunyi dan satu bintang untuk cerita aslinya. Selain itu, jangan berharap terlalu banyak, terutama setelah zombie-zombie mulai bermunculan. Ending-nya juga so typical Hollywood. Ngomong-ngomong, melihat muka si pemimpin zombie yang doyan ber-huhahuhahuhahu itu, tiba-tiba saya ingin nonton film 28 Days Later lagi. Now that's what I called baddas zombies. Sutradara: Francis Lawrence Screenplay: Mark Protosevich & Akiva Goldsman Based on the novel by Richard Mattheson "I Am Legend" (first published 1954) Robert Neville: Will Smith Anna: Alice Braga Ethan: Charlie Taha Zoe: Salli Richardson Marley: Willow Smith *Sebaris kalimat di judul review ini hasil ngembat dari lirik Eleanor Rigby milik The Beatles* Info selanjutnya tentang film ini lihat di http://iamlegend.warnerbros.com/http://en.wikipedia.org/wiki/I_Am_Legend | Category: | Movies | | Genre: | Drama |
Adaptasi terbaru dari salah satu karya penulis Inggris, Jane Austen. Lengkap dengan elemen-elemen standar a la Austen (tokoh utama perempuan, lelaki ideal yang kadang terjangkau kadang tidak, kastil yang buset buset dah gedenya, gaun-gaun indah, topi tinggi, dan kritik terselubung terhadap kelakuan masyarakat kelas atas masa itu).
Film ini berkisah tentang Catherine Morland yang cantik, sedikit bodoh dan polos, kecanduan baca novel gothic, dan berasal dari keluarga baik-baik dan lumayan berada (walaupun tidak kaya raya). Suatu hari Ia diajak oleh suami-istri Allen, sahabat keluarganya, untuk berlibur ke Bath.
Di sana dia bertemu macam-macam orang, kenalan dengan teman-teman baru, ditaksir habis-habisan oleh lelaki petualang, berdansa dengan lelaki kaya raya yang pandai nan sensitif (oh oh oh dia mengerti tentang kain muslin! jadi inget mas ney yang suka fashion!), dekat dengan saudara perempuan si lelaki (yang dewasa dan oh so bijak), dan intinya bersenang-senang sebagaimana layaknya gadis muda di masa itu.
Kalau disesuaikan dengan kondisi jaman sekarang, Bath itu mungkin seperti Bali. Ada long-weekend sedikit aja, Kemang-Sudirman-Kuningan-Thamrin-Gajah Mada pindah ke Kuta dimana kita ketemu semua orang. Bedanya kalau di Kuta, makin gembel makin terlihat seperti orang kaya lama, kalau di Bath gembel ya gembel aja.
Dari Bath, Catherine diundang ke kastil Northanger Abbey, tempat tinggal Henry dan Eleanor Tilney. Di kastil yang sumpah mampus gede banget dan luas sekali bisa memuat seratus beckham dan ronaldo kejar-kejaran itu, hari-hari Catherine disibukkan oleh jalan-jalan ke hutan bersama kakak-beradik Tilney, berkuda bareng Henry, mengkhayal yang tidak-tidak (maklum, kecanduan novel gothic), and simply having a fecking good time lah.
Dia senang, sakit hati, kaget, mimpi basah (dia tidak sadar ini mimpi basah, padahal di mimpinya dia bugil di bak mandi menatapi pahlawannya dengan sorot mata mupeng), mimpi buruk (dikejar-kejar lelaki mupeng), mimpi indah (melihat pahlawannya bertarung melawan lelaki mupeng), ketawa-ketawa, menangis, kehujanan, pulang kemalaman, dan bahagia.
Sayang sekali film ini diakhiri dengan agak tergesa-gesa. Tapi saya tetap puas kok. Makanya saya kasih bintang tiga. Dua bintang untuk ceritanya, satu bintang untuk Felicity Jones pemeran Catherine yang sedap dipandang.
Maaf kalau saya terkesan terlalu malas untuk menulis ceritanya. Nonton sajalah, atau lebih baik lagi, baca bukunya. Kan kata bapak-bapak bijak di tahta sana, Indonesia kurang semangat membaca. Jadi, selamat membaca!
Yang jelas film ini berhasil menurunkan tekanan darah tinggi saya akibat nonton 'film noir ' itu.
| Category: | Movies | | Genre: | Foreign |
Ada lampu gantung basah kuyup terendam hujan di lorong-lorong busuk kota. Bangunan-bangunan tua dengan sejuta masa lalu dan relief-relief mengelupas kuyu, jalanan yang tak rata, cuaca yang tak pernah bercahaya.
Seorang lelaki berjas hujan gelap berlari menembus hujan. Pintu kayu yang dibingkai tembok bata itu terkuak lebar. Ada cahaya lampu menerobos rintik hujan. Hangat sekejap di tengah dingin merambat.
Film In The Mood for Love dari Wong Kar Wai? Ternyata bukan. Saya tak seberuntung itu. Adegan tadi terdapat dalam film Joko Anwar ‘Kala’. Ada banyak adegan semacam ini. Gambar-gambar indah yang membingkai wajah-wajah cantik dan tampan, seringkali dihiasi kepulan-kepulan asap rokok.
Film Indonesia? Ya, sutradaranya memang orang Indonesia. Tentang Indonesia? Tampaknya bukan. Walaupun setting yang seolah-olah tahun limapuluhan (gedung-gedung kota tua, gaya berpakaian dan segala macam detil yang mengesankan berada di masa itu), ternyata di semesta ‘Kala’ ciptaan Joko Anwar yang serba seolah-olah tadi ada juga deretan TV warna di etalase toko, juga komputer yang kesepian di meja perpustakaan.
Itu sebabnya film ini saya kategorikan 'foreign'. Kan bukan di Indonesia?
Ah. Ini semua memang salah saya yang terlalu berharap. Berharap pada Joko Anwar yang dulu kejam sekali waktu jadi kritikus film di The Jakarta Post.
Kala bercerita tentang negeri yang dikuasai mitos. Harta yang terpendam, manusia jadi-jadian yang ketat menjaga amanah ‘Presiden Pertama’ negeri ini, menteri dan komandan polisi yang korup, polisi kere yang homo (emang penting gue tau dia homo?), wartawan yang kehilangan istri (adegan ML-nya basi banget bos! maaf ya), dan penyanyi pub yang bukan main indahnya.
Cerita yang sederhana. Pencarian harta karun warisan raja-raja negeri, si A dan si B yang mencari kebenaran di balik semua yang mati, dan si C dan si D yang melindungi rahasia dengan kesetiaan tak terpahami.
Teman saya yang duduk di pojok sana mengirim SMS, “Absurd banget, Dick Tracy gaya Jawa.” Hahaha…saya langsung cekikikan, tak peduli tetangga di kursi sebelah sudah berkali-kali melirik.
Absurd? Lebih tepatnya kepengen jadi absurd dan seolah-olah absurd. Susah juga kalau orang bikin film dengan niat ‘berbeda’. Bukan berniat menyampaikan pesan melalui media film, tapi berniat bikin film. Gawatnya, filmnya harus berbeda. Gawatnya, harus dibikin ribet.
Joko Anwar juga tampaknya harus belajar cara menempatkan ilustrasi musik dengan tepat. Adegan yang lebih nikmat tanpa musik, dibantainya dengan musik kencang-kencang. Maaf Joko, saya suka banget sama musiknya. Tapi saya gak suka musik yang diperlakukan semena-mena seperti dalam Kala. Kalau cara anda memperlakukan musik ilustrasi seperti itu, bisa-bisa anda dijauhi musisi.
Dan sebenarnya banyak adegan di 'Kala' yang dapat tertolong seandainya saja tidak disiksa oleh musik yang tak tepat waktu itu, apalagi kalau saja pemainnya cukup diam. Kenapa harus ada dialog-dialog tolol macam: "Kalau kau sudah tau dimana tempatnya, segera berikan minuman cairan itu...."
OMG (Oh My Guts). Minuman cairan? Rupanya Joko Anwar sudah ketularan penyakit pengulangan gak penting di dunia perfilman kita macam Love is Cinta. Jelek is Ugly, Minuman is Cairan you know?
Cerita sederhana yang sayangnya dieksekusi dengan semangat bersulit-sulit, berputar-putar, dengan akting yang bolong-bolong, dan akhir cerita yang...sialan...menyebalkan betul!
Mendingan gua nonton Highlander!
Kampret!
NewsdotCom memang tidak sempurna. Tapi episode yang satu ini layak dicerna.
Saya tergolong jarang menonton acara parody politik NewsdotCom di Metro TV. Waktu pertama kali muncul dengan nama Republik BBM di Indosiar acara ini memang mengejutkan. Ratingnya tinggi, topik yang dibahas selalu terkini, diskusinya berlangsung seru, dan kritik yang dilancarkan tajam namun terbungkus humor yang kental.
Setelah Republik BBM berhenti tayang dan NewsdotCom muncul sebagai acara penggantinya, saya amat jarang menontonnya. Penyebabnya bukan karena acaranya tidak menarik, tapi karena sinyal TV di tempat kos saya sangat buruk. Beberapa episode yang saya berhasil tonton (dengan perjuangan cukup keras, sebentar-sebentar membetulkan letak antena) lumayan menggelitik.
Tadi malam (10 Juni 2007, 21:05), untuk pertama kalinya saya berhasil menonton NewsdotCom secara lengkap dari awal sampai akhir. Topik yang dibahas adalah soal interpelasi DPR terhadap Presiden, kenaikan harga minyak goreng, dan Pilkada DKI.
Interpelasi DPR Penasehat Komunikasi Politik Dek Pendi alias Effendi Ghazali menyarankan agar Presiden SBY (Si Butet Yogya) menemui DPR ‘sebagai dua pihak yang sejajar’ untuk membicarakan masalah ini.
Menanggapi komentar pedas Guru Bangsa Gus Pur bahwa DPR memang masih tinggal di taman kanak-kanak, Presiden SBY akhirnya memutuskan akan menemui DPR enam tahun lagi. Yaitu saat mereka sudah lulus SD!
Kenaikan harga minyak goreng Menurut ahli ekonomi Aviliani, penyebab kenaikan harga minyak goreng adalah harga crude palm oil (CPO, bahan baku minyak goreng) di pasaran dunia yang meningkat akibat melonjaknya kebutuhan akan CPO sebagai bahan baku ethanol. Produsen CPO di Indonesia sebagaimana pelaku ekonomi yang baik langsung bereaksi terhadap trend pasar dengan sebanyak-banyaknya mengekspor persediaan mereka. Harga sedang bagus-bagusnya, siapa yang tak mau dapat untung?
Akibat dari aksi ambil untung ini, harga minyak tanah melonjak naik. Catatan terakhir sudah mencapai Rp 8.000-9.000 per kilogram.
Buat saya yang sekali makan di resto cepat saji menghabiskan uang Rp 20.000 sampai Rp 30.000 sekali sikat, dan teman saya yang mengeluarkan uang Rp 100.000 hanya untuk segelas cocktail di bar dekat kantor, harga minyak goreng yang melonjak ini mungkin tidak ada artinya. Tapi buat sebagian besar penduduk di Indonesia, ini menentukan kelangsungan hidup mereka sehari-hari.
Presiden Si Butet Yogya menyatakan bahwa sebagai seorang yang konsisten, ia akan ‘konsisten’ mendengarkan masukan dan keluhan-keluhan semacam ini. Karena yang berlaku saat ini adalah ekonomi pasar, kalau masalahnya tak selesai-selesai juga silakan masyarakat mengeluh kepada pasar!
Jadi Bapak kapitalis? desak Ibu Aviliani. Jawab Presiden, “Saya konsisten!”
Pilkada DKI Jakarta Mungkin saya yang kurang pergaulan, telat mikir, atau kurang informasi. Tapi sampai saat ini kenapa saya sama sekali tidak tahu apa agenda politik calon-calon gubernur Jakarta. Kota ini mau jadi apa seandainya mereka terpilih? Apakah makin macet dan padat? Tambah panas? Meningkat kriminalitasnya? Atau semakin tidak manusiawi? Kalau ada yang tahu, mohon saya diinformasikan secepatnya.
Ngomong-ngomong, ada yang punya rekaman lengkap acara Republik BBM dan NewsdotCom nggak ya?
| Category: | Movies | | Genre: | Action & Adventure |
Terakhir kali saya pergi ke bioskop adalah untuk menonton Spiderman 3. Selama menonton film itu, saya gelisah dan mual-mual terus. Rasanya seperti melihat Raam Punjabi dan Chand Parwez yang menyutradarai film ini. Ujung-ujungnya jadi males ke bioskop lagi.
Thank God the pirates come to my rescue.
Sebelumnya saya harus memperingatkan siapapun yang belum nonton film ini, bahwa review ini mengandung spoiler. Banyak banget spoilernya.
Seri ketiga dari Pirates of the Carribean ini buat saya merupakan seri yang terbaik. Action scene-nya lebih seru, kostum pemainnya lebih keren (can't wait to buy Keira Knightley's Pirate King dan Chow Yun Fat's Sao Feng action figures!), karakter tokoh-tokoh utamanya semakin kuat, dan akting para pemainnya lebih meyakinkan daripada di seri-seri sebelumnya.
Yang paling terasa adalah chemistry di antara Will Turner dan Elizabeth Swann. Sekarang mereka benar-benar terlihat (dan terasa?) seperti sepasang kekasih yang rela melakukan apa saja demi cinta (Anda dimaafkan kalau muntah2 sehabis baca kalimat tadi). Walaupun sebenarnya saya curiga, chemistry yang tampak di mata saya ini dipengaruhi oleh adegan Will mergokin Elizabeth ciuman dengan Jack Sparrow di seri kedua (Dead Man's Chest). A little bit of jealousy will spice up the romance, right? A gallon of blood, a shipload of smelly-dead-ugly crew, and endless sea beyond the horizon will help too, I guess.
Karakter Elizabeth Swann juga lebih seru dan menarik di sini. Dia bukan lagi damsel in distress yang bisanya cuma bisa teriak-teriak minta tolong sambil terikat di tiang dan mempertontonkan cleavage-nya. In this movie she's kicking ass. Sebenarnya sudah sejak di seri kedua (Dead Men's Chest) tokoh yang dimainkan oleh Keira Knightley ini mulai lebih garang dan aktif. Apalagi kalau dibandingkan dengan MJ dan tokoh cewek satunya lagi di Spiderman 3 yang bisanya cuma teriak-teriak tanpa bisa bikin apa-apa. Sumpah, capek banget gue nonton Spiderman 3!
Back to Pirates, Ney! Ok. Film ini dibuka dengan adegan penggantungan para perompak (atau orang-orang yang terkait dengan perompak), tua-muda, lelaki-perempuan. Komplit. Serunya, mereka digantung tanpa diberikan pemberat dikakinya. Jadi mungkin saja leher mereka gak langsung patah saat digantung, dan dibiarkan berlama-lama menderita. Sebelum mati, atas perintah produser mereka sempat kompakan menyanyikan lagu perompak (liriknya saya lupa), yang efeknya buat para prajurit East India Trading Company yang menjaga para perompak itu kurang lebih sama seperti Genjer-Genjer dan Darah Rakyat terhadap pemimpin Orde Baru.
Ah, I'm starting to get carried away here....:)
Lalu kita dibawa ke Singapura, dimana Elizabeth (juga sempat kursus menyanyi lagu perompak), Will (mengingatkan kepada Han Solo waktu ditangkap Jabba the Hut) dan Kapten Barbossa (yang mirip Geoffrey Rush) menghadapi Kapten Sao Feng (the always cool Chow Yun Fat) dan anak buahnya. Ada beberapa detil menggelikan di sini, seperti waktu Elizabeth harus menyerahkan senjata-senjata bawaannya di pintu masuk, atau saat anak buat Barbossa (atau Jack? bingung) yang menyelinap di bawah ruangan Sao Feng, sempat2nya mengintip jubah Elizabeth yang terbuka. Juga adegan-adegan kecil tentang si monyet yang super handy dan crew cebol yang keberatan senjata.
Dari Singapura, kita dibawa ke Farthest Gate, nyemplung ke air terjun maha raksasa di ujung samudra untuk menjemput Jack Sparrow yang terjebak di Davy Jones' Locker. Adegan Jack yang terjebak di tempat ini, di tengah padang es (atau garam) yang luas dengan hanya ditemani bayangan dirinya sendiri, mengingatkan kepada beberapa adegan film The Matrix 'Reloaded' dan 'Revolution'. Kalau saja Mr. Anderson tidak kelewat kaku dan cool akibat jas panjang berkerah pendeta yang dipakainya mungkin dia pun akan berhalusinasi seperti Jack.
Dari Davy Jones' Locker, kita kemudian dibawa ke Shipwreck Cove, tempat berkumpulnya para pimpinan perompak dari seluruh dunia (a dung and dirty version of Lord of the Rings' Rivendell). Ada yang dari Cina (nyonya tua berbedak tebal), dari Perancis (lelaki pesolek berwig dan berbedak tebal), India (lengkap dengan headpiece dan juru bicara yang suaranya lebih bagus dari pimpinannya), Afrika (yang pasti hitam dan gede-gede), Spanyol (atau Italy? Hmmm...lupa), dan dari mana lagi saya lupa....
Yang seru adalah kemunculan Kapten Teague, Keeper of the Pirate's Code, yang ternyata adalah ayah dari Jack Sparrow dan dimainkan oleh Sir Keith Richard! Hahahaha...mantap! Walaupun aktingnya biasa aja dan cenderung kaku, tapi kemunculan gitaris Rolling Stones ini lumayan menambah bumbu di film ini.
Sepanjang film, kita juga akan disuguhkan oleh aksi-aksi pengkhianatan dan penipuan. Elizabeth membohongi Will, Will bohongin Elizabeth, Jack ngibulin the Brethren Court, Brethern Court ngibulin Jack, Will nipu Jack, Jack nipu Will, Sam Raimi nipu Ney, Raam Punjabi nipu se-Indonesia, etc etc. Lengkap deh pokoknya.
Gosh, it felt good to get carried away!
Adegan pertempuran antara armada East India Trading Company melawan para bajak laut merupakan klimaks dari semua action scene film ini. Terutama pertempuran antara Black Pearl melawan Flying Dutchman dalam pusaran air raksasa. Mantap!
Film ditutup dengan adegan cheesy tapi not bad antara Will dan Elizabeth (make love sehari trus harus nunggu setiap sepuluh tahun?), dan Jack Sparrow yang lagi-lagi kehilangan Black Pearlnya (mungkin udah waktunya beli Blackberry Pearl).
Saya sudah pasti akan kembali ke Jakarta Theatre untuk nonton film ini sekali lagi. Moga-moga masih dipasang di studio 1 yang punya screen paling besar.
Yang jelas, film ini berhasil menghilangkan rasa mual dan pengen muntah yang saya rasakan selama menonton Spiderman 3!
cubicle universe -May 25, 2007. 11.29 AM-
| |