Akhirnya saya harus cukup puas dengan sate ayam dan lontong saja.
Setelah menunggu penuh rindu, si tukang nasi goreng yang biasa mangkal di depan Papado.net (Jalan Satrio, satu selepetan jin sebelum ITC Kuningan) ternyata tak datang-datang. Perut lapar dan maag yang mengincar membuat saya tak kuat menanti.
Sate 15 tusuk dan lontong dua. Total harga, Rp15 ribu.
Lumayan mengganjal perut. Nanti sampai di rumah mungkin harus ditambah lagi dengan donat tak berbentuk yang kemarin dimasak paman saya di rumah tante di Kelapa Gading.
Nonton DVD apa subuh ini? Di kamar masih tersisa 'The Assasination of Jesse James', 'No Country for Old Men', dan setumpuk film lagi yang belum sempat ditonton. Ada banyak juga dorama Jepang milik kakak saya yang wajib dilihat. Juga serial West Wing yang harus ditonton ulang minimal setiap minggu.
Majalah Wired, The Economist, National Geographic Traveler, dan Tempo, semuanya belum selesai dibaca. Antologi puisi Saut Situmorang yang bikin mata melek, himpunan puisi Nirwan Dewanto yang indah nan membingungkan, Pangeran Pencuri hasil minjam dari Anya, Iliad dan Odyssey yang kata MJ saya wajib baca. Semua tertumpuk manis di meja belajar.
Harus mulai dari mana ya?
Rencana mengurung diri seperti Musashi (dua tahun di menara benteng daimyo tercinta, hanya membaca dan samadhi) selama masa libur sebulan ini, ternyata tak semudah yang saya kira. Padahal tak banyak kesibukan.
Bangun tidur agak siang. Bengong satu jam mikirin oh nikmatnya tak harus bermacet-macet di jalan raya. Ke kamar mandi untuk pup. Bengong lagi di kamar. Setengah jam menimbang-nimbang harus nonton/baca apa. Satu-dua jam baca/nonton sesuatu. Makan siang/kesiangan. Bengong lagi. Tidur siang. Atau akhirnya mandi yang bersih jangan lupa sikat gigi lalu ganti baju yang trendy. Terus pergi ketemu teman-teman, membahas sidejob terjemahan-penerbitan dan lain-lain. Nongkrong sampai malam. Kadang mabuk. Lebih sering lagi cuma rada-rada tipsy namun tetap terjaga seksi. Pulang subuh/menjelang subuh. (Perumnas Tanah Abang sunyi sekali di jam-jam segini). Ganti baju/hanya buka sepatu melonggarkan retsleting jeans. Bengong setengah jam saja. Bobok yang manis dan mimpi jadi raja pembebas bangsa pembantai monster hina.
Kegiatan rutin seperti pacaran, menemani pacar jalan-jalan, nonton film sama pacar, belanja sama pacar, dan jadi pacar yang baik dan benar sesuai Pancasila dan UUD 1945, tentu tetap dilaksanakan.
Oh betapa senangnya.
Kurang dari sebulan lagi, saya akan kerja seperti biasa. Memang cuma paruh waktu. Tapi harus masuk kantor jam setengah enam pagi. Berarti bangun jam 4 setiap hari.
Sekarang, peduli setan dengan pagi.
Sudah dua botol fruit tea nangkring di samping keyboard. Gara-gara minuman ini, setiap saya teringat internet, otomatis otak saya teringat rasa asam-manis sari buah bohong2an ini. Mungkin karena di setiap warnet yang saya datangi, ia pasti bertengger manis di lemari pendingin.
Di setiap warnet yang saya datangi.
Karena sebagai penganggur intelek, saya tak lagi dapat saluran internet cepat dari kantor. Di rumah belum tersambung internet. Mungkin nanti, kalau sudah dapat laptop baru.
Saat ini, cukup di warnet saja (walaupun malam-malam begini kadang ada orang aneh seperti gadis yang sebenarnya lumayan manis itu tapi agaknya sering keluar malam karena mukanya kok agak keriput ya yang terus-menerus melirik ke arah saya tapi agaknya cuma karena lapar saja karena setelah pesanan ayam bakarnya datang dia tak nengok-nengok lagi mungkin karena sekarang saya gendut seperti ayam bakar).
Jam tiga pagi. Saatnya berkemas dan cari taksi.
when we, unashamedly, gathered in this warnet here that warnet there, to get a glimps of darlings 404 not found nanda and amed and hey people its not not not not not supposed to be fucking found! when we, innocently, gathered in print in televuckinvision radio and gallantly sang curses to these darlingsssssss no wonder lennon felt crucified no wonder jesus jesus jesus was crucified. coz we're all vermins. i couldnt find you, darling 404 was it because you've never seen me before? or, the sun in your eyes couldnt find the door?
a lifetime away in andromeda i licked the passing nebula in my mouth a baby supernova undressed and depressed like you know who
a thousand miles away in alaska i kicked the balls of my huskies to the cockiness of you under the frozen aurora borealis
loncatloncat awas kesandung borat dari maksiat ke max syad dapet salam dari intan berduri pemenang ffi susah dicari downey donni perlu lebih banyak beli vcdmasak nggak tahu fenomena intan berduri? petunjuk nomor 1: partner ida royani petunjuk nomor 2: rima melati. seorang gadis? ah, donni yang manis kenapa semuanya harus perempuan? siapa tahu ceritanya tentang keserakahan? petunjuk 3: perpustakaan sinematek petunjuk 4: koleksinya bikin meremmelek. promosi skalian narsis skalian downey on me di sini.
tak ada ganja akar punjabi anker mengakar birahiku mengejar kau lari! kau lari! tak tahan dikejar hati joget poco-poco sama edophilia.
i long to be smarter than a 5th grader greater than a sith lord darth vader fancier than an a-plus model in october wiser than old-poets who didn't know better.
naik bis di depan sarinah melirik mbak-mbak berbibir renyah wangi sunsilk di pojok kanan semburat keringat di tepi kiri aku tahu jakarta selalu bikin gerah tapi nakal goyangnya membetot gairah aku tahu busway membuat copet gundah satpam yang galak dan mbak berpantat indah turun di kota melipir di trotoar hati-hati nyebrang! banyak sembalap sangar! yuk mampir ke museum bank mandiri bangunan tua dengan sejuta alibi sekarang milik republik, dulu harta kompeni sekarang wisata rikiplik, dulu pusat negeri bosan lihat bank, mari melintas di sungai panjang gelap airnya pekat jiwanya menyimpan cerita yang garang kekasih putus asa bunuh diri tenggelam dan hilang saudagar cina merantau kemari untuk berdagang sampai kita di jembatan kota intan tak secerlang gemintang berlian terjepit saudara betonnya dan kota yang menua putar balik ke cafe batavia tak usah masuk, mahalnya! membuang haus di jakarta cukup cendol dan aqua! lalu kau bertanya padaku (aku tak akan lupa) mungkinkah suatu hari nanti jakarta yang lansia akan muak dengan kita, dan mengusir anak-anaknya ke padang pembuangan abadi, seperti israel tanpa musa? aku tak bisa menjawabnya (aku tak akan lupa) kita ke museum wayang saja, tentu kau suka boneka-boneka dari segala penjuru dunia nyawa yang dipinjam dan tatapan yang baka aku yakin kau suka! (tapi kau menolak dan mengajak pulang saja) naik busway di depan stasiun kota melirik mbak berkemeja belahan rendah tahi lalat di pangkal lehernya kesepian di tengah lautan susu yang bermuda (next stop, bunderan ha i. change your belongings and step carefully, thank you).
jedowney donni menjelajah jakarta kota di mana malaikat menjarah jarah jarah jarah mary and jane lady jane under the broadwalk met mjohani and got down under real quick even before you could spell m.j.h.o.l.i.c. realfuckingquick. jedowney donni menjelajah jakarta karena jawa memang barat oh sangat jauhna, pulangna malamna tak sehat buat mary jane jedowney donni n mjohani where do you want to be tonight with me? pesta pora kata-kata di blog edophilia. lengkapnya loncat ke sana.
i long to see how my parents dated eons ago how they spent their nights with friends their books, if any. movies, if any their love, could it be? the jungle, rivers, mountains, trees and everything that is green black and brown, to get them under my nails sucked them dry let myself sick to death, poisoned my soul and women. not enough of them, too many of them, how many would it take for a man to stop to stop and stop and stop and just stop? light sabres to cut down the throats of whoever's in power now, of morons roaming the streets of whatever whenever where ever without sounding like a fuckin jedi i long to see the future of me and my friends their families kids enemies troubles sadness happiness, mostly. or maybe i just want to live long enough to carry all those photographs i've collected, painfully, to show them to my friends' kids "hey, you know how your parents got that scar over there? its not motorcycle accident, its lover's quarrel, in my room no less. can you believe that, kid?" i long to open up extremely and yet sublimely but hey i guess not only the geekgirl but also me looking for a way to be a whole nothing but be ourselves. i long to write some more but i guess opening up is a challenge too heavy for me. so i will just shut up.
Honesty is never an easy thing, especially when you have to apply it to yourself brutally. But what I've learned lately is that once you're able to do that, you'll see things in a totally different perspective and that things will have a way of working itself out. The reason I moved out from IndoPacific Edelman to Maverick was to see whether I could refresh my interest in the industry. For the past few months I have come to realize that public relations consultancy is really not my thing. I could not picture myself doing this kind of job for the next one or two years. Don't get me wrong. I loved 'meeting new people' (now an overused phrase like a 100-year old slut thanks to hordes of models, actresses and pageant queens reciting "I want to work as a PR person coz I luuuuuuuuvveeed meeting new people. Fuck them you would I guess), traveling to faraway places, and writing. I get this from working as a PR consultant. But I can also get this somewhere else for sure. I would like to spend more time and concentrate on irisPUSTAKA that me and some of my friends have established since last year. This could not be done as a side job. It needs my full attention. Which leads to the decision of resigning from the Associate position in Maverick, effective May 1, 2008. I was actually planning to take a month or two before hunting for fresh grounds, but hey, Ong offered me a job as an Editor. A great package and suitable working hours (Mon-Fri, 6.30 - 10.30 AM), is all that I need to say yes. I will begin my editing days on June 1, 2008. That means a whole month of freedom. I may have sucked at client servicing and consultancy, but I'm fucking good when it comes to writing and editing. I'm broke, but I'm happy. Another step forward to my vagabonding days.
ah mumu. jadi inget gue ganti potongan rambut gara2 dipaksa pacar dan dicela teman2 (kata mikael "that asian bop you were born with" ...kamfret emang tuh anak). jadi inget belanja kemeja kotak2 di forever 21 yg oh so cool but fucking expensive n you could actually buy in pasar senen or pasar baru (lantai sekian baju loakan). ah mumu. jadi inget gue yang suka nyela mas-mas ("liat tuh, mas-mas teng!") padahal temen2 gue juga suka nyela gue mas-mas (mas-mas manado, emang ada?). jadi inget mupeng liat sepatu oakley yang dua juta karena standard issue us army. jadi inget kaos starwars peel and bear duaratus lima puluh ribu padahal its time to stop buying and start creating. ah mumu. jadi inget nyobain sweater ketat keren banget sumpeh gaya gila tapi begitu dipake anjing babi bangsat gue kok keliatan banget gendutnya? ah mumu. tetaplah menulis. peduli setan dengan orang-orang sinis. karena kita menulis juga karena kita sinis karena itu mungkin kita juga setan. karena tanpa setan malaikat jadi pengangguran, bukan? ah mumu. menulislah terus. puisi, atau skenario, atau cerpen, atau apa pun saja. masa kalah sama penyair kamfret kayak gue. masa kalah sama penulis skenario taik kucing kayak di sinetron-sinetron indonesia. masa kalah sama sutradara loser kayak ah sudahlah males bahasnya. masa kalah sama akarpunjadi segalahaljadiyangpentingbahenolseksi. ah mumu. jakarta seksi betul akhir-akhir ini. siang-siang ngintipin mumu.
forever not found 404 coz flock the geese in your monitor forever not found evermore, coz guitar god gary moore is no longer the master of his finger, your finger our fingers lickin good, lickin the mighty penis sprouting on someone's head in memphis wunderbar i'd rather wunderlust to move my feet off the ground humping around to bali, to bali to the place where poets and tourist roam to the paddy fields like the one in your pretty postcards, playing cards in foam in foam, whooooooooooooaaaaaaaaam the girl with braids sang halleluya, she just wrote the lines up there, yesterday while we were stuck up there in the air in the air in the air flock your rock and check the dying polar bear at the nearest movie palace, william wallace will tear his heart out at the sight of those dancing dolphins dancing cheetah dying carribou dancing and fucking but mostly dying in death's embrace in death's embrace. amazing grace, is when you find an apple on the sidewalk, covered with chalk and you ask the bystander have you seen my baby? my baby? my baby? have you seen my baby? forever not found your 404 baby coz she's too busy flocking with cccccccybbbbbooorrggs who couldnt even spell or pronounce h i g h.
    
    Penyair Dunia Maya
Minggu, 27/04/2008
‘‘SEMUA bisa berpuisi’’,itulah tagline dari komunitas BungaMatahari.Siapa pun yang suka berpuisi bisa curhat lewat milis itu, termasuk Anda. BungaMatahari (BuMa) adalah komunitas puisi berbasis mailing list (milis) yang dibentuk pada 19 April 2000 oleh Gratiagusti Chananya Rompas (Anya). Anggota sekaligus moderator, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan TukangKebun.Penggagas milis ini adalah Danar Pramesti. Pada awalnya, milis BuMa merupakan ajang tukar-menukar puisi bagi kedua perempuan ini. Di kampus Universitas Indonesia,Anya dan Danar bertemu dan mulai nongkrong bareng. “Awalnya, namanya anak kuliah,pengen main. Kebetulan pada suka nulis puisi,kita mikir seru banget, nongkrong sambil bikin puisi,” tutur Anya saat berbincang dengan SINDO, di Tornado Coffee. Dari dua menjadi banyak. Mereka ‘’menggalang’’ massa dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik juga Fakultas Sastra UI. Anehnya, para sastrawan muda di fakultas sastra sempat menolak gabung.Namun, perlahan-lahan milis Bungamatahari mulai dikunjungi dan memiliki member dalam jumlah signifikan. “Terlebih pas awal launching buku ‘Antologi Bunga Matahari’. Kita sempat kebanjiran request member.Tapi belakangan ini mulai stabil,”ujar Ney,seorang TukangKebun. Dalam delapan tahun perjalanan BuMa, mereka telah memiliki sekitar 1600 member dalam mailing list BuMa,dan sebuah buku antologi puisi. Perkembangan BuMa yang termasuk cepat memerlukan sejumlah moderator andal. Sebut saja tukang kebun lain,yaitu Nurman Priatna, Pugar Restu Julian,Aloysius Widyosuwasto, Lovelli Ariesti, Yoshi Febriyanto, Festi Noverini, dan Waraney Herald Rawung. Nama BungaMatahari dipilih berdasarkan sejumlah alasan. Pertama-tama,kebanyakan orang masih memandang puisi sebagai sesuatu yang melankolis cenderung tragis cenderung menye-menye, paling tidak pada saat milisini dibuat. Keinginan untuk membongkar pandangan semacam inilah yang mendorong pendiri untuk mengedepankan gambaran bunga matahari yang cerah, ceria, namun pada saat yang bersamaan masih memiliki sisi puitis. ‘’Semua Bisa Berpuisi’’, Mikael Johani seorang moderator BuMa, yang menyebut dirinya penyair, kerap mendapati sinisme akan ungkapan tersebut.Tidak sedikit penyair atau sastrawan angkatan lebih tua mengkritisi karya mereka. Semua bisa berpuisi banyak dikritik.Menurut mereka, enggak semua orang dapat berpuisi. Tapi kalau BuMa asyik-asyik aja. “Generasi baru sastra yang belum diakui tidak mencari pemberkatan atau restu dari mereka. Kita di sini untuk berbagi,”ujar Mikael. “Dan kita tidak berminat untuk digurui,”tambah Anya. Sederhananya, semua orang dapat bergabung dalam milisBuMa dan berpuisi.Tidak terlalu peduli akan tema, struktur, karena semua dikembalikan pada kedewasaan masing-masing anggota.Pada prinsipnya, seseorang bisa bertutur lewat puisi, mengasah kepekaan mereka,dan berani berpuisi lewat milis. Keanekaragaman tema membuat para moderatornya ‘’kewalahan’’.Beberapa puisi yang mengandung unsur Sara dipersilakan menempati ruang dalam milis.Lalu di mana letak sensor? “Tidak ada.Kita mengembalikan pada pembaca untuk menginterpretasi puisi itu,”tutur Anya. Jikalau ada perdebatan, hendaknya tidak menjadi api pemicu permasalahan lebih besar. Sosok-sosok sastrawan mudainimemilikikedewasaandan kebijakan dalam menyikapi ekspresi rekan-rekan mereka. Saat ini (masih) berkembang dalam lingkup dunia maya. “Bagi kami dunia maya adalah nyata,”ujar Mikael seraya tersenyum. Ya, berbasis internet Bu- Ma menyalurkan cita rasa sastra semua kalangan yang mencintai kata-kata.Para moderatornya pun jeli melihat perkembangan internet dengan segala layanannya.Tidak sekadar milis,tapi juga memaksimalkan layanan yang ada untuk menjaga eksistensi BuMa. “Kita pernah bikin acara baca puisi bersama, dan direkam lalu dimasukkan ke dalam YouTube,”jelas Ney. Atau Lahirnya The Toilet dan Kwaci untuk mengakomodasikan hujanan kata dari para anggotanya.The Toilet berisikan puisi dalam bahasa inggris, sementara Kwaci adalah milis untuk menampung cerita pendek. Perlu diingat bahwa di BuMa,hanya puisi berbahasa Indonesia yang diterima. Dan sampai saat ini BuMa telah memiliki puluhan ribu puisi yang 180 di antaranya sudah dibukukan dalam Antologi Puisi Bunga Mataharidi tahun 2006. Melihat perkembangan BuMa kini, baik Anya maupun Danar tidak akan menyangka bisa jadi sebesar ini. “Tidak menyangka sama sekali. Kalau sekarang ngobrolsama Danar suka lucu aja. Dulu kita paling cuma iseng. Awalnya, pengen semangat nongkrong lebih gede dari berpuisi,” ungkap Anya seraya tertawa. Antara Maya dan Nyata SELAIN aktif di dunia maya, komunitas Bunga Matahari memiliki serangkaian acara di dunia nyata. Di antaranya Kebun kata, Rumah kata, Bengkel kata, dan BuMa untuk semua. KebunKata adalah acara pembacaan puisi yang terbuka bagi siapa saja – anggota BuMa atau bukan. Walaupun menawarkan konsep pembacaan puisi yang santai dan spontan, acara ini biasanya mengangkat sebuah tema untuk dieksplorasi oleh pengunjungnya. Di dalam acara ini beberapa kali dilakukan kegiatan MainKata. Di sini para pengunjung dapat bekerja sama menuliskan sebuah atau beberapa puisi. RumahKata adalah sebuah acara berkonsep pameran yang menampilkan karya-karya eksplorasi dari literatur yang dipadukan dengan kesenian-kesenian lain. Pameran selalu dibuka dengan sejumlah pertunjukan yang sedapat mungkin juga mengusung semangat kolaborasi, baik antara dua atau lebih bentuk kesenian yang berbeda maupun dua atau lebih penampil. Acara ini diselenggarakan secara berkala oleh Komunitas BungaMatahari (BuMa) dan mengangkat tema berbeda setiap kalinya. Sedangkan Bengkel kata adalah kegiatan yang bersifat pelatihan dan memberikan kemampuan atau pengetahuan tambahan mengenai puisi,bentuk-bentuk karya sastra yang lain,juga hal-hal lain di luar itu yang berhubungan dengan kehidupan berkomunitas di BuMa. Beberapa kali BuMa mengundang sastrawan senior untuk berbagi, bukan sekadar menggurui. Karena pada dasarnya tiap orang memiliki cita rasa dan kekhasan dalam menulis puisi. Kiprah BuMa untuk Semua memungkinkan kerja sama dengan komunitas atau lembaga yang bergerak di dalam bidang literasi maupun nonliterasi untuk mengadakan kegiatan berpuisi atau literasi atau kesenian secara umum atau kegiatan dengan tujuan- tujuan sosial. Langkah Maksimal DAPAT dikatakan, sekumpulan sastrawan muda dalam komunitas BuMa bukanlah orang-orang yang ambisius. Meski ada banyak kesempatan untuk maju, mereka memilih mengambil langkah-langkah kecil, tapi maksimal. Sukses dengan buku Antologi Bunga Matahari, mereka belum berencana merilis sekuel atau tetraloginya. “Mengalir aja. Rasanya belum ideal, dari waktu dan tenaga belum memungkinkan,” tutur Anya. Dahulu, pembuatan buku antologi membutuhkan dedikasi penuh dari penggagasnya. Ada sekitar 5000 puisi pertama di milis yang disaring untuk masuk buku. “Editing kita termasuk tidak repot, tapi membutuhkan keseriusan,” jelas Anya. Puisi dari tahun 2000 sampai 2005 diambil ‘’Top 180-nya’’, dan dibuatkan buku. Jika menggunakan perhitungan seperti itu, untuk Antologi part II, paling tidak dibutuhkan puisi ke 5001- 10.000 puisi. Namun, tidak semudah perkara angka saja. Tidak ada target khusus, semua menjalani hidup dan napas berpuisi dengan wajar. Anya dan Edo Walla mempersiapkan buku mereka, sementara anggota lain berpuisi dari blog ke blog. “Dari kita semua, buku Anya dan Edo paling siap maju ke penerbit,” dukung Ney. Dunia maya atau jaringan internet adalah kenyataan bagi anak-anak muda ini. Mereka paham betul soal ‘’dramatisasi’’ dunia maya, apa yang sedang atau akan berjaya. Selain milis, BuMa memiliki ‘jendela-jendela’ di situs sosial lain seperti YouTube, Facebook, Friendster. “Selalu ada yang baru. Dan kita tidak membatasi hanya pada satu medium,” terang Mikael. Bagi mereka, puisi dan internet sudah menjadi bagian dari kehidupan. Sastra dunia maya adalah hal yang menarik. BuMa ingin terus menyemangati dan mewadahi minat dan bakat menulis puisi juga merangsang keberanian dan keasyikan membaca puisi di semua kalangan. Sementara itu, lewat puisi, BuMajuga ingin ikut melestarikan dan mengembangkan penggunaan bahasa Indonesia. Oleh karena itu, BuMa telah dan terus mencari kesempatan untuk mengadakan kegiatankegiatan berpuisi yang menyenangkan serta menjalin kerja sama dengan komunitas-komunitas lain, baik yang bergerak dalam bidang sastra maupun tidak, untuk semakin mengakrabkan puisi dengan masyarakat. (yohana yuliatri)
pencakar langit yang kelupas kutexnya burung gereja main-main di kepala patung lelaki di tengah kolam sunyi, belantara bunderan ha i patung perempuan turun sebentar, "mau kemana?" "mau beli bunga di barito, sayang!" jangan lama-lama. busway nomor sekian melintas di bawah patung lelaki "kok lama sekali? tolong lihat apa yang terjadi!" menara kota bni runcing ujungnya, seperti pena penyair merobek mendung menyebar kilau dan nyinyir patung perempuan terisak kembali ke puncak batu "tak ada bunga, tak ada siapa-siapa." oh, so jakarta.
sendiri aku melangkah seberangi thamrin yang tak pernah mati terkantuk, mungkin. terlelap, jarang. mengerang, tak pernah hilang di bawah jembatan penyeberangan yang kadang ada pengamen saksofon depan halte yang selalu punya penjaga timer bus kota, so jakarta basah di kepala apa embun yang kepagian? atau keringat bermain lelaki awal tigapuluhan? so, jakarta pusat kota ini lubang hitam insomnia biarkan aku jadi nebula untuknya masih nimbrung tulisan mumu, menjawab mikael.
curhat colongan mumu borongan lokananta seperti nama istana raja malas pulang? penyakit menahun sulit tidur melek terus stress menimbun siapa yang pernah merasa tua? kalau jakarta terus melenggang seksi bagai anak dara?
LelAki PENabur tentu bukan karena seperti pengkhotbah yang perlu belajar pitch control, kau pun tahu, terlalu banyak perbudakan terhadap imaji-imaji kristiani dalam puisi atau mimpi mimpi manusia yang ingin mati denyut nadi di pipi mulai hilang disambar celotehan sastra dan curcol penyair pemberontak yang ingatkan kita bahwa dia yang berharga haruslah dijaga, dengan nyawa dan raga bahwa sejatinya engkau orang jawa pendidikan barat cuma garisan pena dunia sudah berdosa, teriakku malam itu di depan teman-teman baru selamat ulang tahun penyair, teriakku di tengah busa berbintang sabtu di depan perawan yang terpaku
lapen dan bintang di malioboro uenak sekali abege punk dengan anting di hidungnya, get a fucking life you worthless moron siapa tahu besok kau jadi penghuni got barangkali lusa kau jadi tumpukan batu yang menyangga salibku lapen dan bintang membuatku tipsy and you said you missed me? setengki iri dan dengki tak salah, karena amarah yang meluap di pagi merekah pecah
| |